IMPIAN

Bagi kebanyakan wanita modern, impianku ini tidak keren.

Ketika yang lain ingin kuliah hingga S3 di luar negeri atau berkelana keliling dunia, aku hanya ingin menikah dan menjadi Ibu.

Hingga akhir hidupku, aku tahu aku tidak akan mencapai kebahagiaan sejati bila impian ini tidak tercapai.

Tidak peduli berapa uang yang kuhasilkan, berapa gelar yang kupunya, berapa harta yang kumiliki.

Menikah dan menjadi Ibu adalah kebahagiaan sejatiku.

Sekarang yg kubutuhkan adalah seseorang yg yakin padaku sebanyak perasaan yakinku padanya. Kita berdua harus sama-sama tahu dan sadar kita telah menemukan orang yg tepat. Saat kutemukan orang itu, aku akan menikahinya. Tanpa berat hati aku akan mengikuti kemana pun dia mengarahkan.

Cintaku sekarang adalah padanya, bukan pada A lagi. Kadar cintaku pada A mungkin hanya tinggal 10% saat ini. Tp dia yg kucinta itu terus membuatku ragu. Memang benar kata orang, kita tidak menikahi orang yg kita cinta ya? Mungkin aku akan menikahi A atau yg lain. Pasti seseorang yg melindungi dan mencintaiku. Seseorang yg menjadikanku prioritas dalam hidupnya.

Teoriku Tentang Waktu Menikah

Bila Allah telah menentukan aku menikah umur 25 tahun, maka..

Aku pasti akan menikah umur 25 tahun

Tidak peduli aku menghabiskan tahun-tahun sebelumnya dengan pacaran atau tidak,

Aku akan menikah umur 25 tahun.

Jodohku bisa muncul setahun, sepuluh tahun, dua puluh tahun sebelumnya.

Bisa jadi aku mengenalnya sejak aku bisa mengingat atau setengah tahun sebelum hari pernikahanku.

Aku pasti akan menikah dengan pria yang telah ditentukan Allah sebagai pemimpin keluarga masa depanku.

Tidak peduli dia tinggal di kota yang sama denganku atau di belahan dunia lain,

Tidak peduli saat ini dia memiliki pasangan atau sendiri sepertiku,

Tidak peduli dia memiliki selera musik yang sama atau berbeda denganku,

Tidak peduli saat ini dia memikirkanku atau wanita lain,

Aku akan menikah umur 25 tahun.

Sudah Siapkah Menikah?

  • Syifa: "Jauh dalam lubuk hati, sebenarnya Uni itu belum siap nikah kan?"
  • Laila: "Hah? Kenapa bisa berpikir begitu? Coba kasih bukti2nya."
  • Syifa: "Keluarga seperti apa yg Uni inginkan?"
  • Laila: (Mikir lama) "Keluarga yang komunikatif dan ekspresif. Katanya bisa kasih bukti. Kenapa malah kasih pertanyaan?
  • Syifa: "Karena syifa ingin Uni membuktikan sendiri. Pasangan seperti apa yang Uni inginkan?"
  • Laila: "Pasangan yang mendukung semua hobi dan mimpi Uni. Pasangan yang supel dan tahu cara menempatkan diri. Pasangan yang melihat Uni setara dengannya."
  • Syifa: "Nah, sekarang untuk mendapatkan keluarga dan pasangan seperti itu, apa yang akan Uni berikan pada keluarganya? Berapa banyak yang rela Uni korbankan?"
  • Laila: (Diam) "Hmm..hmm.."
  • Syifa: "Itulah.Semua perempuan pasti punya daftar pernikahan ideal, keluarga ideal, suami ideal, anak2 ideal, tetapi mereka tidak punya daftar hal-hal yang akan mereka berikan pada mereka. Inikan seperti barter. Ada taking dan giving. Coba lihat mama, bukannya menurut Uni mama berkorban terlalu banyak untuk papa?
  • Laila: "Iya."
  • Syifa: "Itulah seorang perempuan. Mereka harus rela mengorbankan kesenangan pribadi mereka untuk keluarga. Perempuan itu kunci kebahagiaan keluarga."